Berprestasi Sudah Tradisi
Kalo Gagal Hukuman Menanti
Datang Terlambat Dimarahi
Kalo Gagal Hukuman Menanti
Datang Terlambat Dimarahi
Pulang Telat Dimaki
Istri
Loyalitas Harga Mati
Tidak Mau Lobi Gigit Jari
Potongan bank menggerogoti gaji
Potongan bank menggerogoti gaji
Gaji sebulan hanya cukup sehari
Naik pangkat tidak pasti
Tak naik pangkat makan hati
Naik pangkat tidak pasti
Tak naik pangkat makan hati
Rumah Bagus Hanya
Mimpi
Masuk Surga Belum
Pasti
Hahaha.... Itulah Puisi tentang derita PNS di Indonesia. Akhir-akhir ini banyak sekali sorotan mengenai kinerja PNS. Bahwa PNS itu kinerjanya buruk. Kerjanya malas-malasan, prestasinya nol, korupsinya luar biasa, terlalu banyak libur, dan masih banyak cap negative lain untuk PNS. Mengapa demikian? Banyak hal terjadi belakangan ini. Mulai dari berbagai kasus korupsi yang melibatkan PNS hingga sepinya kantor pada hari lebaran. Salah siapa? Coba kita ulas antara idealnya PNS di mata masyarakat dengan penilaian masyarakat dan kenyataan di lapangan.
1.
PNS harus pinter. Penilaian
masyarakat kurang pinter. Masa sih? Perasaan sama saja tuh dengan pegawai
swasta. Kalo orang diterima PNS melalui serangkaian ujian (5-8 kali test),
menyingkirkan ribuan saingan, berarti orang tersebut pinter dong?
2.
PNS tidak boleh kaya. Penilaian
masyarakat PNS yang kaya pasti korupsi. Masa iya? Mana ada aturan PNS gak boleh
kaya? Kalo PNS yang diterima dengan serangkaian test dan lulus itu pasti orang
pinter. Nah kalo dia pinter pasti pengen kaya dong. Nah kalo jadi PNS gak boleh
kaya pasti dia keluar dari PNS (ini sudah terjadi di beberapa instansi pusat).
Nah kalo PNS yang pinter-pinter pada keluar, yang tertinggal yang kurang pinter
dong. Dan kalo PNS yang kurang pinter dan masih setia jadi PNS harus melakukan
pelayanan publik, dan karena dia kurang pinter pelayanannya kurang memuaskan,
masyarakat protes dan mengatakan PNS tidak pinter. Salah siapa? Kembali lagi ke
nomor satu.
3.
Kualitas PNS harus super.
Penilaian masyarakat kualitas PNS menyedihkan. Masyarakat menghendaki PNS
menjadi seorang manusia super yang punya kemampuan super dengan penghasilan
minim dan tidak boleh kaya tapi sekaligus mempunyai semangat pengabdian super dan
moral yang suci bak malaikat, serta tidak boleh mengeluh meskipun tidak ikut
merayakan lebaran ketika orang lain cuti lebaran. Adakah orang seperti itu?
Kalo ada PNS seperti itu berarti dia punya kualitas super. Dan kalo dia punya
kualitas super maka kembali lagi ke nomor satu dan dua.
4.
PNS tidak boleh sering libur
dan cuti. Penilaian masyarakat PNS terlalu banyak libur dan cuti bersama. Yang
bener maaaasss...? Kenyataannya libur PNS itu hanya sabtu dan minggu serta hari
besar nasional. Ditambah cuti bersama yang dipotong dari cuti tahunan 12 hari.
Jadi kalo cuti bersama setahun 8 hari cuti tahunannya tinggal 4 hari. Kaciaannn.
Bagaimana kalo cuti bersama bertepatan dengan tugas kedinasan PNS di luar kota?
PNS tersebut tetap dipotong cuti tahunannya tapi yang bersangkutan tidak boleh
libur karena terikat surat tugas kedinasannya. Jadi jatah cuti sudah berkurang
tapi tidak dinikmati. Rugi dong dia? Jelas! Bagaimana kalo lebaran? Bolehkah
PNS yang bertugas di tempat jauh, di luar pulau misalnya, nambah cuti di luar
cuti bersama selagi jatah cutinya masih ada? TIDAK BOLEH. Karena cuti bersama 3
hari tambah libur lebaran 2 hari dianggap cukup (oleh pemerintah) untuk
silaturahmi di kampung halaman. Tidak peduli bagaimana sulitnya PNS tersebut
jungkir balik mencari tiket pesawat dengan harga selangit, itupun kalo masih
tersedia. Akhirnya apa yang terjadi? Hubungan silaturahmi dengan sanak family renggang.
Hubungan dengan keluarga renggang. PNS cari hiburan di luar. Terjadi
perselingkuhan. Karenanya empati menjadi hilang. Otak menjadi tumpul. Pelayanan
berkurang. Duitpun berkurang. Korupsi. Dan akhirnya kembali ke nomor satu, dua
dan tiga.
5.
PNS harus maksimal melayani.
Penilaian masyarakat PNS setengah hati melayani masyarakat. Yang ini banyak
benarnya. Kenyataannya memang pelayanan yang diperoleh masyarakat ketika
mengurus KTP, KK, dan segala macam dokumen kependudukan serta segala macam yang
membutuhkan pelayanan dari si “Abdi Negara” memang dirasa tidak memuaskan. Serba
tidak pasti. Di ping-pong kesana kemari. Duit pelicin menjadi solusi. Nah kenapa
bisa begitu tuh? Kali ini bukan masalah ke-pinter-an atau gaji. Masalahnya
adalah kebiasaan turun temurun, dari senior kepada yunior. Bisa juga masalah
moral dan kurangnya empati dari PNS. Kenapa PNS kurang bisa ber-empati? Kembali
lagi ke nomor empat.
Itulah Dilema PNS di Indonesia. Sebab dan akibat semuanya saling
mempengaruhi. Seperti lingkaran setan. Bagian mana dari lingkaran setan itu
yang harus dipotong? Sulit sekali menjawabnya.
Jadi? Masihkah anda tertarik menjadi PNS? Jawabannya bisa ditebak,
MASIH. Kenapa? Karena tidak ada pekerjaan lain-kah? Karena Tidak punya modal
untuk usaha-kah? Karena malas untuk jatuh bangun berbisnis-kah? Karena merasa
mampu juga pantas-kah? Atau ........ karena sanak familinya sudah duluan jadi
PNS, jadi bisa dibawa, diusahakanlah gimana caranya gitu supaya bisa masuk.....
ntar anunya gampang, cingcailah.... hahaha.

2 komentar:
Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah
Jangan menyerah..... jangan menyerah....
Siap Lin.....
Posting Komentar